Hai
chinggudeul Balik di Blog aku yang insyaallah memberikan sedikit ilmu
amiin. kali ini aku bakal kasih tau sedikit tentang biografi para ilmuan Nasional di bidang kesehatan. minggu kemarinkan sudah ilmuan Islam nah sekarang yang Nasionalnya:) jadi semoga kalian suka. oh iya awal link aku dapat dari sumber ( https://infonawacita.com/5-sosok-ini-adalah-pahlawan-di-bidang-kesehatan-indonesia)
1. Prof. Dr. Gerrit A. Siwabessy
Prof. Dr. Gerrit A. Siwabessy
lahir di Desa Ullath, Pulau Saparua, 19 Agustus 1914. Ia merupakan lulusan dari
Sekolah Kedokteran NIAS di Surabaya pada tahun 1942. Pada tahun 1949 ia melanjutkan
studi ke Inggris (London) dan mendalami bidang Radiologi dan Kedokteran Nuklir
di London University. Ketika kembali ke Indonesia tahun 1962 diangkat
sebagai Kepala Bagian Radiologi (Ilmu Sinar) pada rumah sakit pusat atau Rumah
Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Kemudian Dr. Siwabessy merintis
pembinaan di bidang radiologi antara lain: mendirikan Sekolah Asisten Rontgen
di RSCM, melatih para dokter penyakit paru-paru, mengatur dan membina
kegiatan-kegiatan klinis dalam bidang radiologi di rumah sakit pemerintah
maupun swasta. Dr. Siwabessy kemudian diangkat sebagai Kepala Lembaga Radiologi
Departemen Kesehatan dan juga menjadi ketua dari Panitia Penyilidikan
Radioaktivitas dan Tenaga Atom.
Pada tahun 1954 didirikanlah
Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) dan Siwabessy menjadi direkturnya. Dua tahun
kemudian ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Radiologi pada Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Siwabessy juga pernah mengepalai
Tim Dokter Kepresidenan. Pada Kabinet Pembangunan ia menjadi Menteri Kesehatan
selama dua periode.
Ia meninggal dunia di Jakarta
pada tahun 1981. Tokoh nasional dan “Bapak Atom” Indonesia ini dihargai
jasa-jasa dan pengabdiannya oleh Pemerintah RI dan bangsa Indonesia sebagai
seorang Mahaputera Indonesia yang besar dan dianugerahi bintang tertinggi yaitu
Bintang Mahaputera Utama. ( https://infonawacita.com/5-sosok-ini-adalah-pahlawan-di-bidang-kesehatan-indonesia/ , 14-05-2020, 05.41 wib)
2. Abdulrachman Saleh
Abdulrachman Saleh dilahirkan
pada tanggal 1 Juli 1909, di kampung Ketapang (Kwitang Barat)
Jakarta. Pria yang mengenyam pendidikan kedokteran di STOVIA (School Tot
Opleiding van Inlandsche Artsen) dan GHS (Geneeskundige Hoge School) ini
merupakan sosok dokter yang mendalami pengetahuan ilmu faal.
Karena ilmu faal yang
dikembangkan oleh Abdulrachman Saleh diterima dengan baik, maka pada 5 Desember
1958 Universitas Indonesia menetapkan dia sebagai Bapak Ilmu Faal Indonesia.
Walaupun ia seorang dokter, tapi
ia mampu dalam menciptakan satu pemancar yang dinamakan Siaran Radio Indonesia
Merdeka, yang berfungsi untuk menyiarkan seluruh berita mengenai Indonesia
terutama tentang proklamasi Indonesia dan dapat didengar hingga mancanegara.
Pada 11 September 1945, anak dari Mohammad Saleh ini turut berperan dalam
mendirikan Radio Republik Indonesia. ( https://infonawacita.com/5-sosok-ini-adalah-pahlawan-di-bidang-kesehatan-indonesia/ , 14-05-2020, 05.45 wib)
3. Prof. Dr. Sardjito
Prof Dr Sardjito, lahir 13
Agustus 1889 di Purwodadi, Kawedanan Magetan, Karisidenan Madiun, Jawa Timur.
Dia adalah dokter lulusan Stovia (sekolah kedokteran zaman kolonial Belanda)
pada 1915. Sang ayah yang berprofesi sebagai guru, berhasil menginspirasi
Sardjito untuk berjuang di dunia pendidikan Indonesia.
Lulus dari Stovia, ia bekerja
sebagai dokter di Rumah Sakit Jakarta selama lebih kurang satu tahun, lalu
pindah ke Institut Pasteur Bandung sampai 1920. Jiwa Sardjito sebagai seorang
peneliti berkembang ketika ia mengikuti tim penelitian khusus influenza di
Institut Pasteur. Pada waktu itu, influenza menjadi momok bagi masyarakat.
Sebagai seorang dokter, Sardjito
telah mencatat penemuan-penemuan yang bermanfaat bagi masyarakat, di antaranya,
obat penyakit batu ginjal (Calcusol), dan obat penurun kolestrol (Calterol). Ia
menekankan agar kedua obat tersebut tidak dijual mahal.
Selain menciptakan obat-obatan
itu, ia juga menciptakan vaksin anti penyakit infeksi untuk Typus, Kolera,
Disentri, Staflokoken dan Streptokoken. Ia merupakan peneliti yang menggunakan
pendekatan multidisipliner. Hal itu dibuktikan dengan karyanya berjudul
"The Occurence in Indonesia of Two Diseases Rhinoscleroma and Bilharziasis
Japonica Whose Spread is Rooted Deep in the Past". Karya ini dilakukan
bersama ahli Paleoantrophologi G.H.R von Koenigswald.
Sebagai lulusan sekolah
kedokteran, Sardjito juga aktif dalam organisasi dan gerakan kemahasiswaan.
Sardjito pernah menjadi Ketua Budi Utomo Cabang Jakarta. Peran Sardjito untuk
dunia pendidikan terbukti kala Proklamasi 1945. Belanda dengan membonceng
Sekutu kembali datang ke Indonesia dan menyerbu beberapa wilayah. Pertempuran
hebat berkecamuk antara pejuang kemerdekaan dengan tentara Belanda di banyak
wilayah RI.
Untuk menyelamatkan aset
pendidikan dari pertempuran, Sardjito menyelundupkan buku-buku dari Institut
Pasteur ke Klaten dan Solo. Selain itu, masih pada masa perang kemerdekaan,
Sardjito berjasa mengobati para pejuang kemerdekaan. Sardjito membantu
menyediakan obat-obatan dan vitamin bagi prajurit. Selain itu, Sardjito juga
membangun pos kesehatan untuk Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Yogyakarta
dan sekitarnya.
Pada 1949, Sardjito diangkat
menjadi Rektor Universitas Negeri Gadjah Mada atau yang sekarang lebih dikenal
dengan Universitas Gadjah Mada (UGM). Seiring dengan perjalanan karirnya
membangun Universitas Gadjah Mada, Sardjito mendirikan pula Universitas Islam
Indonesia (UII). Selain dikenal sebagai sosok dokter yang mengobati para
tentara Indonesia yang terluka saat bertempur, Sardjito juga dikenal sebagai
pelopor pembuat biskuit untuk tentara Indonesia di masa perang. Biskuit
tersebut kemudian dikenal luas dengan nama Biskuit Sardjito.
Pasca kemerdekaan, Sardjito
menginisiasi Colombo Plan yang merupakan program restorasi pasca-Perang Dunia
II, yang memperkenalkan Indonesia kepada dunia Internasional, sebagai negara
merdeka dari penjajahan bangsa manapun.
Sardjito wafat pada 5 Mei 1970
dalam usia 80 tahun, ketika masih menjabat sebagai rektor Universitas Islam
Indonesia (UII). Untuk mengenang jasa dan pengabdiannya kepada bangsa dan
negara, nama Prof Dr Sardjito diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Pusat
(RSUP) yang dikenal dengan RSUP Dr Sardjito di Yogyakarta, serta untuk gedung
Kuliah Umum (GKU) di kampus terpadu Universitas Islam Indonesia (UII)
Yogyakarta. (Foto: kompas).
(https://rri.co.id/humaniora/sosok/744725/prof-dr-sardjito-sosok-dokter-ilmuwan-dan-pejuang-pendidikan , 14-05-2020, 05.50 wib)
4. Hasri Ainun Habibie
dr. Hj. Hasri Ainun Besari biasa
dipanggil Hasri Ainun Habibie. Ainum
lahir di Semarang, Jawa Tengah, 11 Agustus 1937 dan wafat di München, Jerman, 22 Mei 2010 pada
usia 72 tahun adalah Istri dari Presiden Indonesia Ketiga, BJ. Habibie. Ia
menjadi Ibu Negara Indonesia ketiga dari tahun 1998 hingga tahun 1999.
Hasri Ainum juga seorang pahlawan kesehatan yang berjuang untuk
mengembalikan penglihatan tunanetra semasa hidupnya. Atas dedikasinya, yang
sangat tinggi bagi dunia kesehatan (khususnya dalam penanganan penyakit mata di
Indonesia), maka Pemerintah Provinsi Gorontalo pada tahun 2013 berinisiasi
membangun dan meresmikan Rumah Sakit Provinsi dr. Hasri Ainun Habibie di
Limboto, Kabupaten Gorontalo.
Saat ini, Rumah Sakit Ainun Habibie sedang dikembangkan menjadi Rumah Sakit
Pendidikan (Universitas Negeri Gorontalo yang belakangan namanya diusulkan
diubah menjadi Unversitas B.J Habibie) dan Rumah Sakit Rujukan bagi
daerah-daerah di wilayah teluk tomini yang meliputi Provinsi Sulawesi Utara,
Gorontalo, dan Sulawesi Tengah.
Hasri Ainun Besari adalah anak keempat dari delapan bersaudara R. Mohamad
Besari dan istrinya, Sadarmi. Arti nama Hasri Ainun adalah mata yang indah. Ia
mendapatkan gelar dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada
tahun 1961 dan bekerja di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. (http://www.biografi.co.id/2019/09/biografi-ainun-habibie-ibu-negara-dan.html, 14-05-2020, 05.55 wib)
5. Dr. Moewardi
Dr. Muwardi adalah salah satu pahlawan kemerdekaan
RI. Dia lahir di Pati, Jawa Tengah di tahun 1907. Muwardi adalah seorang dokter
lulusan dari School Tot Opleiding Voor Indische Artsen (STOVIA). Dia kemudian
melanjutkan pendidikannya dengan mengambil spesialis di sekolah Telinga,
Hidung, dan Tenggorokan (THT).
Semasa hidup, ia aktif
berorganisasi. Saat masih bersekolah di STOVIA, ia memasuki organisasi Jong
Java. Ia pernah pula menjadi anggota Indonesia Muda. Organisasi pramuka pun
dimasukinya dan pernah menjadi pimpinan umum Pandu Kebangsaan yang kemudian
berganti nama menjadi Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI).
Beredarnya kabar mengenai
kekalahan Jepang dalam perang Pasifik menimbulkan berbagai spekulasi dan
rencana dalam masyarakat. Proklamasi kemerdekaan Indonesia merupakan salah satu
rencana yang paling santer di kalangan para pemuda dan pemimpin
pergerakan. Untuk melaksanakan misinya, sekelompok pemuda yang
tergabung dalam Barisan Pelopor kemudian melakukan pengamanan terhadap tokoh-tokoh
pemimpin perjuangan seperti Soekarno dan Hatta.
Beberapa hari sebelum
kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Dr. Moewardi diangkat menjadi pemimpin
Barisan Pelopor seluruh Jawa. Pada 16 Agustus 1945, anggota Barisan Pelopor dikerahkannya
ke Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Monas) untuk mengamankan para pemimpin
perjuangan dan lapangan dari kerusuhan dan ancaman bala tentara Jepang. Sebab
menurut rencana, di tempat itulah Proklamasi Kemerdekaan akan diucapkan.
Sesudah proklamasi diumumkan, Moewardi membentuk Barisan Pelopor Istimewa
sebagai pengawal pribadi Presiden Soekarno. Waktu Kabinet Presidensiil
terbentuk, ia diminta untuk menjadi menteri pertahanan, tetapi ditolaknya sebab
ingin terus berpraktik sebagai dokter.
Meskipun disibukan dengan
kegiatannya dalam kepengurusan organisasi keamanan namun tak lantas membuatnya
lupa pada tugas utamanya sebagai dokter. Itu pula yang melatarbelakangi
penolakannya saat namanya diusulkan untuk memangku jabatan sebagai Menteri
Pertahanan dalam kabinet Presidensiil. Situasi kota Jakarta kembali memanas
saat kedatangan tentara sekutu di awal tahun 1946. Ketika masih berada di
Jakarta, ia ikut dalam pertempuran melawan Inggris di Klender. Karena kondisi
keamanan yang kian rawan, untuk menjaga keselamatan para pemimpin, mereka pun
diungsikan ke Yogyakarta dan Barisan Pelopor dipindahkan ke Solo, namanya pun
berganti menjadi Barisan Banteng. Cabang-cabang Barisan Banteng dibentuk di
daerah-daerah lain.
Dalam setiap pertempuran, Dr.
Moewardi setia mendampingi dan mengobati tentara yang terluka. Di tengah
rutinitasnya memimpin dan menjaga kesehatan para pejuang, bersama
rekan-rekannya sesama dokter, ia masih sempat mendirikan “Sekolah Kedokteran”
di Jebres, Solo kemudian pindah ke Klaten.
Sesudah Persetujuan Renville
ditandatangani, situasi politik di Tanah Air memanas. Pasukan RI mesti
menghadapi tentara Belanda dan Sekutu dengan bekal perlengkapan tempur
seadanya. Keadaan negara makin buruk saat Pemberontakan PKI Madiun di bawah
komanda Muso dan Amir Syarifuddin terjadi pada tahun 1948. PKI menculik dan
membunuh orang-orang yang menjadi lawan politik mereka.
Dalam perjalanan naik andong ke
rumah sakit Jebres itulah Dr Moewardi diculik dan dibawa entah ke mana. Untuk
melawan aksi-aksi antipemerintah yang dilancarkan oleh Front Demokrasi Rakyat
(FDR) yang merupakan anak buah Partai Komunis Indonesia (PKI), Dr. Moewardi
membentuk Gerakan Rakyat Revolusioner (GRR) pada Agustus 1948. Sedangkan
praktik sebagai dokter tetap dijalankannya. Pada 13 September 1948, ia
berangkat ke rumah sakit Jebres untuk melakukan operasi terhadap seorang
pasien, walaupun sudah dilarang oleh anggota staf Barisan Banteng.
Dalam perjalanan naik andong ke
rumah sakit Jebres itulah Dr Moewardi diculik dan dibawa entah ke mana. Meskipun
tidak jelas oleh siapa, namun menurut situasi saat itu, besar kemungkinan kalau
Dr. Moewardi telah diculik orang-orang PKI seperti halnya dua orang anak
buahnya, yaitu Darmosalimin dan Citromargongso. Dua orang anggota Barisan
Banteng itu jenazahnya ditemukan kemudian dimakamkan di Jokotole, sebelah
selatan tanggul Surakarta. Namun jenazah dan makam Dr Moewardi belum ditemukan
hingga kini.
Atas jasa-jasanya pada negara,
Dr. Moewardi dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional berdasarkan SK
Presiden RI No.190 Tahun 1964, tanggal 4 Agustus 1964. Namanya juga diabadikan
sebagai nama rumah sakit yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Moewardi di Solo,
Jawa Tengah dan nama jalan di beberapa kota seperti Jakarta (daerah Grogol),
Cianjur (bypass), Solo (Kota Barat), Blitar dan Denpasar (Renon). (https://tokoh.id/biografi/3-pahlawan/dokter-pembela-nkri/ , 14-05-2020 , 06.05 wib)
selamat membaca
selamat menunaikan ibadah puasa chinggudeul. stay safe, stay at home, dirumah aja
wassalammualikum wr.wb





Tidak ada komentar:
Posting Komentar