Rabu, 29 April 2020

5 Biografi Ilmuan Islam Bidang Kesehatan

Assalammualaikum wr.wb

Hai chinggudeul Balik di Blog aku yang insyaalah memberikan sedikit ilmu amiin. kali ini aku bakal kasih tau sedikit tentang biografi para ilmuan islam di bidang kesehatan. jadi semoga kalian suka.


1.  Muhammad Bin Zakariya Ar-Razi




Ar-Razi lahir pada tanggal 28 agustus 865 masehi dan meninggal pad tanggl 9 oktober 925 masehi. Nama Razi-nya berasal dari nama kota Rayy. Kota tersebut terletak di lembah selatan jajaran dataran tinggi Alborz yang beradadidekat Teheran, Iran. dikota ini juga , ibnu sina menyelesaikan hampir seluruh karyanya. saat masih kecil, Ar-Razi  tertarik menjadi penyanyi atau masisi  tetapi dia kemudian lebih tertarik pada bidang alkemi. pada umurnya yang ke-30, Ar-Razi memutuskan untuk berhenti menekuni bidang alkemi dikarenakan berbagai eksperimen yang menyebabkan matanya menjadi cacat. kemudaian dia mencari dokter yang bisa menyembuhkan matanya dari sinilah ar-Razi mulai memepelajari ilmu Kedokteran.

Dia belajar ilmu kodekoteran dari Ali ibnu shalat at-Tabri, seorang dokter dan filsuf yang lahir di Merv. dahulu, gurunya merupakan seorang yahudi yang kemudian berpindah agama menjadi islam setelah mengambil sumpah untuk menjadi pegaai kerajaan dibawah kekuasaan khalifah Abbasiyah, Al- Mu'tashim. Ar-Razi atau dikensl sebagai Rhazes di dunia barat merupakan seorang pakar sains iran yang hidup anata tahun 864-930 . ar-razi juga diketahui sebagai ilmuan serbabisa dan dianggap sebagai salah satu ilmuan terbesr dalam islam. 

Buku ar-Razi yaitu Al-Judari wal Hasbah(cacar dan campak)) adalah buku pertama hyang membahas tentang cacar dan campak sebagai dua wabah yang berbeda. buku ini kemudian diterjemahkan belasn kali kedalam latin dan bahasa eropa lainnya. selain itu, razi diketahui sebagai seorang ilmuan yang menemukan penyakit " alergi asma", dan ilmuan pertama yang menulis tentang alergi dan imunologi. pada salah satu tulisnnya, dia menjelaskan timbulnya penyakit rhintis. setelah mencium bunga mawar pada musim panas. Razi juga menupakan ilmuwan pertama yang menjelaskan demam sebagai mekanisme tubuh untuk melindungi diri.

dalam Kitab Mansuri beliau menyebutkan semua anggota badan dan menjelaskan fungsingnya masing-masing. beliau menulisnya dengan sangat rinci. Ahli sejarah sepakat bahwa Ar-Razi adalah mercusuar bagi kedokteran dalam dunia islam dan barat samapai bad ke tujuh.



2. Abdul Qasim az-Zahrawi


ia dikenal dibarat sebagai Abulcasis, adalah salah satu pakar bidang kedokteran pada masa islam abad pertengahan dan mendapat julukan "Bapak Operasi Moderen". karyanya terkenal adlah Al-Tasrif , kumpulan praktik kedokteran yang terdiri atas 30 jild. Al-Tasrif Berisi berbagai topik mengenai kedokteran, termasuk diantaranya tentang gigi dan kelahiran anak. buku ini diterjemahkan ke bahasa latin oleh Gerardo dari Cremon pada abad ke-12, dan selama lima abad erop pertengahan, buku ini menjadi sumber utama dalam pengetahuan bidang kedokteran di eropa.

kehebatan dan profesionalitas Al-Zahrawi sebagai seorang ahlibedah diakui para dokter dieropa . tak diragukan lagi, Al- Zahrawi adalah kepala dari seluruh ahli bedah, ucap pietro Argallata. Kitab Al-Tasrif yang ditulisnya lalu diterjemhkan kedalan bahasa latin oleh Gerard of Cremona pada abad ke-12 M. kitab itu juga dilengapi dengan ilustrasi. kitab itu menjadi rujuan dan buku resmi sekolah kedokteran dan para dokter sera ahli bedah eropa. pada abad ke-14 M,  Seorang ahli ada bedah Prancis bernama Guy De Chauliac  mengutip Al-tasrif hampir lebih dari 200 kali . Kitab Al-Tasrif terus menjadi pegangan para dokter di Eropa hingga terciptanya era Renaissanec. Hingga Abad ke-16 M, ahli bedah Berebangsaan Prancis, Jaques Delechamps (1513 M- 1588 M) masih menjadikan Al-Tasrif Sebagai Rujukan. 

3. Ibnu Al-Nafis


Beliau merupakan orang pertama yang secra akurat mendeskripsikan peredaran darah dalam tubuh manusia pada 1241. penggambaran kontemporer proses ini telah bertahan. khususnya, ia merupakan orang pertama yang diketahui telah mendokumentasikan sirkuit paru-paru. secara besar-besaran 
karyanya tak tercatat sampai ditemukan di Berlin Pada 1924. 

sebagai seorang dokter, ibnu Nafis tidak pernah merasa puas dengan ilmu kedokteran yang dimilikinya. ia terus memperkaya pengetahuannya melalui berbagai observasi. Hal inilah yang membuat namanya terkenal. ia adalah dokter pertama yang mampu menerangkan seara tepat tentang paru-paru dan memberikan gambaran mengenai saluran pernapasan, juga interaksi antara salauran udara dengan darah dalam tubuh manusia. ibnu Nafis dikenal sebagai seorang dokter muslim yang mempunyai pendapat dan pemikiran yang masih murni, terbebas dari berbagai pengaruh Barat.

Dalam studinya, ibnu Nafis menggunakan beberapa metode yaitu observasi, survei dan percobaan. ia mempelajari ilmu kedokteran melalui pengamatan terhadap sejumlah gejala dan unsur yang memepengaruhi tubuh. menurut ibnu Nafis, selain melakukan pengobatan memeriksa unsur-unsur penyebab munculnya penyakit juga perlu. selain itu, ia juga memaparkan mengenai peredaran darah di paru-paru inni merupakan penemuan yang menaarik, sehubungan dengan hal itu, Nafis dianggap telah memeberikan pengaruh besar bagi perkembangan ilmu kedokteran Eropa pada abad XVI lewat penemuannya teersebut para ilmuan menganggapnya sebagai tkoh pertama dalam ilmu siklus darah.


4. Abu Zaid Al-Balkhi



jauh sebelum barat mengenal metode penyembuhan penyakit jiwa dan tempat perawatannya, pada abad ke 8 M. di kota baghdad telah didirikan rumah sakit jiwa insane asylums oleh para dokter dan psikolog islam. Hal itu disampaikan oleh Ibrahim B. PhD. dalam bukunya yang berjudul: "islamic Medicine: 1000 years ahead of its times".

konsep kesehatan mental atau attaibb arRuhani pertama kali diperkenalkan didunia kedokteran Islam oleh seorang dokter persaia bernama  Abu Zayd AhmadIbnu Sahl al-Balkhi, Beliau lahir pada tahun 850 dan wafat pada tahun 934. dalam bukunya berjudul " masalih alabdan wa an-anfus", al-balkhi berhasil menghubungkan penyakit antara tubuh dan jiwa. belaiau menggunakan istilah ath-Thibb ar- ruhani untuk menjelaskan kesehatan spritual dan psikologi.

Al- Balkhi mengelompokkan penyakit saraf dlam empat gangguan kondisi mental- kejiwaan, yaitu ketakutan dan kegelisaahan ( fear and anxiety), amarah dan penyerangan (anger and aggression), kesedihan dan depresi (sadness and adepression), serta obsesi atau gangguan pikiran (obsession). lebih lanjut al-balkhi menggolongkan tiga jenis depresi, yaitu depresi normal atau kesedighan, depresi yang berasal dari luar tubuh.  individu yang seht harus selalu menjaga kesehatan pikiran dan perasaan. maka menurutnya keseimbangan antara pikiran dan tubuh sangat diperlukam  untuk memperoleh kesehatan yang prima. sebaliknya ketimpangan antara keduanya justru menibulkan penyakit. disamping itu, dia juga memperkenalkan konsep pengobatan yang berlawanan (al-ilaj bi I-dhid reiprocal inhibition), diaman konsep ini dikenalkan kembali ribuan tahun kemudian oleh joseph wolpe tahun 1969.

konsep kesehatan mental dan mentalindividu, menurutnya, selalu berhunumgan dengan kesehatan spritual. dia adalah orang yang pertama kali berhasil mengkaji  bermacam-macam penyakit yang secara langsung mempunyai keterkaitan antara fisik dan jiwa, seperti yang diulasnya dalam kitab masalih al abdan  wa alanfus (asupan bandan  dan jiwa ). al-balkhi menggunakan kesehatan jiwa, sedangkauntuk menjelaskan pengobatan mental, digunakn istilah Tibb alQalb(pengobatan  kalbu).

Al- Balkhi sering mengkritik dkter-dkter di zamannya karena selalu memfokuskan perhatian mereka pada penyakit fisik saja dan mengabaikan peyakit mental dan kejiwaan para pasiennya. dia beragumen bahwa dikarenakan konstruksi manusia terdiri dari jasmani  dan rohani, maka keberadaannya tidak dappat dikatan  sehat tanpa adanya keterjalinan (isytibak) antara jiwa dan badan. lebih lanjut dia katakan: "jika badan sakit , jiwa pun akan banyak kehilangan kemampuan kognitifnya dan tidak bisa meraskn kenikmatan hidup". sebaliknya dia juga menjelaskan " jika jiwa sakit, badan pun kehilangan keceriaan hidup dan bahkan badannya pun bisa jatuh sakit".
(https://www.serupedia.com/2017/06/ilmuwan-muslim-di-bidang-kedokteran.html 29/04/2020. 18.45 wib)
 

5. Ibnu Sina


Ibnu Sina atau yang lebih dikenal dunia Barat dengan nama Avicenna mempunyai nama lengkap Abu Ali al-Huseyn bin Abdullah bin Hasan Ali bin Sina. Julukannya adalah al-Ra’s (puncak gunung pengetahuan). Menurut Ibnu Khallikan, Al-Qifti, dan Bayhaqi, Ibnu Sina lahir pada bulan bulan Shafar 370 H/ Agustus 980 M, di desa Afsanah, Bukhara, Uzbekistan. Ayahnya, ‘Abdullah dan Sitarah, ibunya, merupakan keturunan Persia, karena itu ketika Ibnu Sina masih remaja dia sering menulis puisi dan essai dalam bahasa Persia.

Keluarga Ibnu Sina bisa dikatakan keluarga yang mampu. Ayahnya diangkat menjadi gubernur di sebuah distrik di Bukhara, ketika masa pemerintahan  penguasa Samaniyah, Nuh II bin Mansyur. Berangkat dari keluarga yang mampu, orang tua dari Ibnu Sina berusaha memberi anaknya pendidikan terbaik. Ayah Ibnu Sina merupakan seorang muslim dari sekte Isma’ili (Syiah). Rumahnya merupakan pusat aktivitas sarjana, dan ulama masyur pada masanya. Mereka banyak melakukan aktivitas diskusi membahas berbagai permasalahan, dari diskusi-diskusi inilah Ibnu Sina memahami pengetahuan yang luas.

Ibnu Sina memang telah memperlihatkan kecerdasan yang luar biasa sejak kecil. Selain mempunyai kemampuan analisa berpikir yang tajam, Ibnu Sina juga dikenal mempunyai daya ingat yang sangat kuat. Orang tua Ibnu Sina mulai memberikan pendidikan agama dan logika elementer sejak Ibnu Sina masih berusia 5 tahun. Pada usia 10 tahun, Ibnu Sina telah hafal al-Qur’an. Dia juga belajar fikih, dan ilmu-ilmu syariat.

Tidak hanya mempelajari ilmu agama, setelah menguasai ilmu teologi Ibnu Sina mulai terjun ke dunia filsafat hingga umur 16 tahun. Ibnu Sina juga berguru kepada Abu Abdullah An-Naqili, dan belajar Kitab Isaghuji dalam ilmu logika dan berbagai kegiatan Euklides dalam bidang matematika. Setelah itu, dia belajar secara otodidak dan menekuni matematika hingga dia berhasil menguasai buku Almagest karangan Ptolemaeus serta menguasai disiplin ilmu pengetahuan alam. Sering sekali soal-soal ilmiah yang tidak dapat diselesaikan oleh gurunya, mampu dia selesaikan.

Semangat untuk belajar Ibnu Sina tidak berhenti di bidang teologi dan matematika saja, karena dia lalu mempelajari ilmu kedokteran kepada gurunya, Abu Manshur al-Qamari, penulis kitab Al-Hayat Wa al-Maut, dan Abu Sahal Isa bin Yahya al-Jurjani, penulis ensiklopedia kedokteran Al-Kitab Al-Mi’ah Fi Shina’atih Thib. Ibnu Sina akhirnya menguasai ilmu kedokteran dalam waktu satu setengah tahun. Tidak dapat dipungkiri Ibnu Sina merupakan pribadi yang bijaksana, dia tidak membuang waktu masa mudanya untuk hal sia-sia, dia selalu memanfaatkan waktunya untuk belajar  berbagai ilmu hingga dia menguasainya.

Tidak mengherankan memasuki  usia 16 tahun, Ibnu Sina telah menjadi pusat perhatian para dokter sezamannya. Mereka sering menemuinya untuk berdiskusi perihal penemuan dalam bidang kedokteran. Pada usia yang sama, dia dapat menyembuhkan penyakit yang diderita sultan Samaniyah, Nuh bin Manshur (976-997), sehingga dia diberi hak istimewa untuk menggunakan perpustakaan besar milik raja.
Dianugerahi dengan kemampuan luar biasa untuk menyerap dan memelihara pengetahuan, ilmuwan muda dari Persia ini membaca seluruh buku-buku di perpustakaan itu , hingga akhirnya berhasil menguasai semua ilmu yang ada pada masanya, sekalipun dia lebih menonjol dalam bidang filsafat dan kedokteran. Memasuki usia 21 tahun, Ibnu Sina mulai menulis karya-karya monumental di berbagai bidang keilmuwan, dengan karya pertamanya berjudul Al-Majmu’u (ikhtisar), yang memuat berbagai ilmu pengetahuan umum.

Ibnu Sina tidak pernah berhenti membaca serta tidak pernah bosan menulis buku. Dia memang dikenal kuat memikul tanggung jawab ilmuih dan sering tidak tidur malam hanya karena membaca dan menulis. Selain itu, Ibnu Sina tidak mengambil upah dalam mengobati orang sakit. Bahkan dia banyak bersedekah kepada fakir miskin sampai akhir hayatnya.

Ibnu Sina wafat di Hamdzan, Persia pada tahun 428 H (1037 M) dalam usianya yang ke-58 tahun. Dia wafat karena terserang penyakit usus besar. Selama masa hidupnya Ibnu Sina memberikan sumbangan luar biasa terhadap kemajuan keilmuwan. Pemikiran-pemikiran Ibnu Sina di berbagai disiplin ilmu banyak diadopsi oleh ilmuwan masa setelahnya, tidak hanya oleh ilmuwan muslim tetapi juga ilmuwan Barat banyak yang mengadopsi pengetahuan dari karya-karya Ibnu Sina. Dalam rangka memperingati 1000 tahun hari kelahirannya, melalui event Fair Millenium di Teheran pada tahun 1955, Ibnu Sina dinobatkan sebagai “Father of Doctor” untuk selama-lamanya.  (https://wawasansejarah.com/biografi-ibnu-sina/  30/04/2020, 08.48 wib)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

5 Biografi Spesialisasi Jurnalistik dan Olahraga Nasional

FOTOGRAFI Bismillahirahmanirahim Assalammualaikum wr.wb Hai Chingu online,  Bagaimana kabarnya? sehat-kan ? iya dong harus seha...