FOTOGRAFI
Bismillahirahmanirahim
Assalammualaikum wr.wb
Hai Chingu online, Bagaimana kabarnya? sehat-kan ? iya dong harus sehat ya. Tetap jaga kesehtan dengan dirumah saja ya. selalu ikuti protokol kesehatan okeee.
Kali ini aku mau berbagi sedikit pengetahuan tentang 5 Biografi Spesialisasi Jurnalistik dan Olahraga Nasional seperti yang sebelumnya sudah bnyak aku mengupdate tengan 5 biografi dibidang keshatan. jadi kali ini berbeda lagi , jadi semoga bermanfaat yaa
1. Oscar Motuloh
Oscar Motuloh adalah seorang fotojurnalis terkemuka
Indonesia yang lahir di Surabaya pada tanggal 17 Agustus 1959. Ia memulai
karirnya dengan menjadi wartawan tulis Antara pada tahun 1988 setelah mengikuti
Kursus Dasar Pewarta (Susdape). Pada tahun 1990, dia ditunjuk oleh Parni Hadi,
pemimpin redaksi Antara untuk menangani biro foto. Pada awalnya, Oscar belajar
fotografi secara otodidak, namun pada taun 1991 dan 1993, ia belajar
mengenai foto jurnalisme di Hanoi dan Tokyo.
Oscar Motuloh pernah menjabat sebagai direktur Biro Foto Antara, dan sekarang merupakan penanggung jawab dan kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara yang didirikannya pada tahun 1992. Galeri Foto Jurnalistik Antara adalah galeri foto jurnalistik pertama dan satu-satunya di Asia Tenggara yang terletak di daerah Pasar Baru, Jakarta Pusat. Di luar jabatannya di Biro Foto dan Galeri Antara, ia juga mengajar fotojurnalistik di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta dan sering diundang sebagai pembicara dalam acara diskusi foto, sebagai juri dalam lomba-lomba foto, dan sebagai kurator pameran. Oscar Motuloh juga terlibat dalam pembentukan Pewarta Foto Indonesia, sebuah organisasi yang menaungi para fotojurnalis. Pada tahun 2011, Oscar Motuloh mendirikan Liga Merah Putih bersama Julian Sihombing, Jay Subiakto, Enrico Sukarno, Yori Antar, John Suryadmadja, dan Astafarinal St. Rumah Gadang.
Beberapa pameran tunggal yang pernah diadakannya adalah “Voice of Angkor” yang diadakan pada tahun 1997 dalam kerjasama dengan Pusat Kebudayaan Prancis di Jakarta,”Carnaval” pada tahun 1999, “Chansons Périphériques” pada tahun 2002 mengenai kaum minoritas di Prancis, “The Art of Dying” pada tahun 2003 di Bentara Budaya Jakarta, dan yang “Soulscape Road” atau “Lintasan Saujana Jiwa” pada tahun 2009 di Galeri Salihara. Pameran foto “Soulscape Road” ini juga pernah dipamerkan di Tropenmuseum di Amsterdam kerjasama dengan Pemerintah Belanda.
Ia juga mengedit buku foto seperti “Samudra Air Mata” yang diterbitkan di tahun 2005 yang menampilkan hasil karya 17 fotografer mengenai tsunami di Aceh. Selain menjadi editor, ia juga mengkuratori beberapa buku foto dan pameran seperti “The Struggle Continues, 100 Days On” yang diluncurkan di Galeri Foto Jurnalistik Antara, “Viewpoints” yang menampilkan karya Sigit Pramono dan Lans Brahmantyo, “Soul Oddyssey” pada tahun 2005, dan “Omar’s Visual Journey” pada tahun 2010. Pada tahun 2005 juga, bekerja sama dengan 7 fotografer lainnya, menerbitkan buku “The Loved Ones.” Pada tahun 2009 ia menerbitkan buku foto “Soulscape Road” mengenai bencana-bencana yang terjadi di Indonesia. Pada tahun 2011, bersama dengan 9 fotografer lainnya yang sebagian besar tergabung dalam Liga Merah Putih, mengadakan pameran foto dan peluncuran buku foto yang berjudul “Indonesia A Surprise” yang diadakan di Galeri Salihara. Buku Indonesia A Surprise ini menampilkan beberapa puisi dan essay dari Goenawan Mohamad.( http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/oscar-motuloh , 27/05/2020 14.00)
Oscar Motuloh pernah menjabat sebagai direktur Biro Foto Antara, dan sekarang merupakan penanggung jawab dan kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara yang didirikannya pada tahun 1992. Galeri Foto Jurnalistik Antara adalah galeri foto jurnalistik pertama dan satu-satunya di Asia Tenggara yang terletak di daerah Pasar Baru, Jakarta Pusat. Di luar jabatannya di Biro Foto dan Galeri Antara, ia juga mengajar fotojurnalistik di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta dan sering diundang sebagai pembicara dalam acara diskusi foto, sebagai juri dalam lomba-lomba foto, dan sebagai kurator pameran. Oscar Motuloh juga terlibat dalam pembentukan Pewarta Foto Indonesia, sebuah organisasi yang menaungi para fotojurnalis. Pada tahun 2011, Oscar Motuloh mendirikan Liga Merah Putih bersama Julian Sihombing, Jay Subiakto, Enrico Sukarno, Yori Antar, John Suryadmadja, dan Astafarinal St. Rumah Gadang.
Beberapa pameran tunggal yang pernah diadakannya adalah “Voice of Angkor” yang diadakan pada tahun 1997 dalam kerjasama dengan Pusat Kebudayaan Prancis di Jakarta,”Carnaval” pada tahun 1999, “Chansons Périphériques” pada tahun 2002 mengenai kaum minoritas di Prancis, “The Art of Dying” pada tahun 2003 di Bentara Budaya Jakarta, dan yang “Soulscape Road” atau “Lintasan Saujana Jiwa” pada tahun 2009 di Galeri Salihara. Pameran foto “Soulscape Road” ini juga pernah dipamerkan di Tropenmuseum di Amsterdam kerjasama dengan Pemerintah Belanda.
Ia juga mengedit buku foto seperti “Samudra Air Mata” yang diterbitkan di tahun 2005 yang menampilkan hasil karya 17 fotografer mengenai tsunami di Aceh. Selain menjadi editor, ia juga mengkuratori beberapa buku foto dan pameran seperti “The Struggle Continues, 100 Days On” yang diluncurkan di Galeri Foto Jurnalistik Antara, “Viewpoints” yang menampilkan karya Sigit Pramono dan Lans Brahmantyo, “Soul Oddyssey” pada tahun 2005, dan “Omar’s Visual Journey” pada tahun 2010. Pada tahun 2005 juga, bekerja sama dengan 7 fotografer lainnya, menerbitkan buku “The Loved Ones.” Pada tahun 2009 ia menerbitkan buku foto “Soulscape Road” mengenai bencana-bencana yang terjadi di Indonesia. Pada tahun 2011, bersama dengan 9 fotografer lainnya yang sebagian besar tergabung dalam Liga Merah Putih, mengadakan pameran foto dan peluncuran buku foto yang berjudul “Indonesia A Surprise” yang diadakan di Galeri Salihara. Buku Indonesia A Surprise ini menampilkan beberapa puisi dan essay dari Goenawan Mohamad.( http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/oscar-motuloh , 27/05/2020 14.00)
Hasil Karya Oscar Motuloh
(https://www.google.com/search?q=foto+karya+Oscar+Motuloh&safe=strict&client=firefox-b-d&sxsrf=ALeKk00EL841Y-ZuNKu04Q4TaN1TgEIRBg:1590564486862&tbm=isch&source=iu&ictx=1&fir=x365hdCL75BA4M%253A%252CwQUTh85kuwym6M%252C_&vet=1&usg=AI4_-kS0bulGZrZJDiWz5KsFQYwgjP9iQA&sa=X&ved=2ahUKEwjt_ey5wtPpAhVm63MBHf6xBFQQ9QEwAHoECAoQEw#imgrc=x365hdCL75BA4M: , 14:05)
2. Irsan Mulyadi
Irsan Mulyadi
adalah seorang fotografer jurnalistik muda kebanggaan kota Medan. Karya-karya
fotonya sudah banyak diganjar penghargaan bertaraf lokal hingga nasional. Di
tahun 2013, laki-laki kelahiran 1984 ini dianugerahi “Photo of The Year”
Anugerah Pewarta Foto Indonesia (PFI). Tahun berikutnya, 2014, ia menyabet
“Foto Terbaik” Antara Foto yang menyisihkan lebih dari 50.000 foto lainnya.
Kecintaan
Irsan akan dunia jurnalistik dimulai sejak ia duduk di bangku SMP. Saat tahun
1998, ia menjadi saksi dari kerusuhan pasca jatuhnya rezim Soeharto.
“Aku
waktu itu masih kelas dua SMP dan aku melihat kerusuhan tahun 1998 itu tepat di
mataku. Nah di situlah aku melihat seorang wartawan. Aku langsung berfikir
kalau wartawan adalah profesi yang sangat bermanfaat bagi orang lain dan penuh
tantangan. Aku jadi tertarik,” paparnya
Irsan
sendiri berasal dari keluarga yang penuh keterbatasan dalam hal ekonomi. Ibunya
adalah seorang buruh cuci, sedangkan ayahnya seorang tukang sepatu.
“Dulu
kami tinggal di rumah sewa, di gubuk. Kalau hari hujan, kami harus tidur miring
ke kiri atau kanan agar tidak kena bocoran tetesan air hujan,” kenangnya.
Untuk
membantu ekonomi keluarga, Irsan kecil pun pernah menjajakan salabulek (kue
khas Minang) di sekitar lingkungan rumahnya.
“Aku
dulu sering nunggak bayar uang sekolah. Kondisi ekonomi keluarga inilah yang
bikin aku berjanji ke diri sendiri agar tidak menyusahkan keluarga dan berusaha
memperbaiki ekonomi keluarga,” tuturnya.
Tamat
dari SMA Negeri 6 Medan, anak keempat dari lima bersaudara ini berhasil menjadi
mahasiswa di Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU), dan lulus pada tahun
2008.
“Dari
semua anak mamakku, cuma aku yang tamat kuliah. Sejak kuliah semester empat aku
udah mandiri, kerja sana-sini, ikut penelitian, dan udah bisa bantu orang tua
dikit-dikit,” sambungnya.
Berbekal Kamera Pocket
Tamat
dari FISIP USU, suami dari Tya Yoniva Kusmareza ini pun berusaha mencari
pekerjaan.
“Berangkat
dari kondisi kecil yang serba terbatas, pekerjaanku harus membantu orang lain,”
lanjutnya.
Menjadi
jurnalis adalah pilihan Irsan. Ia pun sempat bekerja di Harian Sumut Pos,
sebelum pindah ke Kantor Berita Antara.
Perjalanannya
menjadi fotografer jurnalistik terbilang cukup historis. Pada 2 Maret 2009, ia
mengabadikan aksi demonstrasi kasus Provinsi Tapanuli yang menewaskan ketua
DPRD almarhum H. Abdul Azis Angkat. Fotonya merekam almarhum H. Abdul Azis
Angkat ketika hendak dievakuasi dari “serbuan” para demonstran.
“Waktu
itu statusku di Antara masih wartawan tulis, tapi kemana-mana bawa kamera
pocket. Jadi foto itu aku rekam pakai kamera pocket. Kantor melihat
fotoku itu. Foto itu dipakai hampir di seluruh media di Indonesia. Dari situ
aku jadi tertarik ke fotografi jurnalistik, aku melihat kalau fotografi
jurnalistik berada di barisan terdepan dalam mengabarkan sebuah peristiwa,”
paparnya.
Enam
bulan pasca peristiwa tersebut, Irsan pun akhirnya memutuskan untuk fokus
menjadi fotografer jurnalistik. Ilmu jurnalistik sendiri dipelajari Irsan dari
pelatihan yang diadakan oleh kantor tempat ia bekerja. Sedangkan ilmu fotografi
diperolehnya melalui otodidak dan rajin bertanya kepada semua orang.
Irsan
melanjutkan, ketika sudah menjadi fotografer jurnalistik, teman-teman
seprofesinya rata-rata menggunakan kamera DSLR (digital single lens
reflection) sebagai “senjata utama”, sedangkan ia masih menenteng kamera pocket.
“Terkadang
jadi minder sendiri, tapi banyak yang dukung terutama para senior. Mereka
bilang gini, kami seharusnya yang malu, kami memakai DSLR tapi fotomu yang
diambil pakai kamera pocket tidak jauh beda dengan foto-foto kami.
Sebenarnya foto yang bagus dalam fotografi jurnalistik bukan tergantung kamera
yang digunakan tapi dari insting fotografernya, kamera hanyalah alat,”
kenangnya.
“Soal
ilmu fotografi aku tanya kemana-mana, seperti apa memotret di siang hari,
bagaimana memotret saat gelap, saat cahaya yang tidak terlalu cukup; aku banyak
belajar dari kawan. Aku juga nanya adik junior di kampus yang paham fotografi,
gak malu, ngapain malu, termasuk Risky Cahyadi walau dia junior di kampus, tapi
harus diakui mereka yang lebih dulu kenal dunia fotografi,” sambungnya.
“Aku
percaya kalau setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah,”
tuturnya.
Irsan
menggarisbawahi, kalau kamera hanyalah alat untuk mempermudah fotografer. Oleh
karenanya, ia tidak terlalu memaksakan dirinya untuk meng-upgrade
spesifikasi kameranya.
“Kalo
punya kamera dengan lensa kita 18-55 mm sebenarnya udah cukup. Tapi memang gak
ada salahnya juga di-upgrade, contohnya lensa tele yang membantu ketika
ingin memotret dalam jarak tertentu yang tidak bisa ditempuh, seperti
pertandingan sepakbola atau kerusuhan,” ujarnya.
Suka Tantangan
Pribadi
yang mengidolakan Oscar Motuloh ini adalah seorang yang menyukai tantangan. Hal
ini dibuktikannya dengan beberapa foto-fotonya yang inspiratif yang didapat
melalui perjuangan bersimbah keringat.
“Aku
selalu ingin jadi yang pertama dan terdepan dalam mengabarkan sebuah peristiwa
secara visual,” katanya.
Irsan
kemudian menceritakan ia pernah berada tidak jauh dari awan panas erupsi Gunung
Sinabung yang menghasilkan debu pasir setinggi betis orang dewasa di Desa Suka
Meriah, kaki Gunung Sinabung.
Ayah
dari Dimas Arya Mulyadi ini juga pernah “mengikuti” pihak terkait dalam mencari
gerombolon perampok Bank CIMB Niaga. Alhasil, baku tembak antara perampok
dengan pihak polisi dan TNI terjadi langsung di depan matanya.
Fotonya
yang menjadi juara dalam “Photo of The Year” Anugerah Pewarta Foto
Indonesia (PFI) tahun 2013 juga diraih dengan penuh perjuangan. Penggemar sate
padang ini bercerita, kalau foto tersebut berlokasi di Langkat. Ia sebelumnya
mendapat informasi dari tim penyelamat orang utan, kalau mereka akan melakukan
proses evakuasi orang utan.
“Waktu
itu bulan puasa. Aku masuk hutan jam 11 pagi, ketemunya baru jam 6 sore, dan
kami hampir saja kecewa lalu bergegas pulang, karena orang utan yang gak
kunjung nampak. Waktu itu aku berdoa kepada Allah, ya Allah hambamu puasa dan
hambamu ini bekerja, masa’ jauh-jauh dari Medan mau ngefoto evakuasi orang utan
tapi orang utannya gak nampak. Alhamdulillah, 10 menit kemudian orang utannya
ada di atas kepala kami, dibius, terjatuh, dan aku potret menjelang adzan
maghrib. Di pelipisnya ada peluru yang diduga berasal dari tembakan warga
karena dianggap hama oleh penduduk yang tinggal di sekitar kebun kelapa sawit,”
jelasnya.
Photo
of The Year” Anugerah Pewarta Foto Indonesia (PFI) tahun 2013 karya Irsan
Mulyadi
Irsan
berprinsip, manusia yang paling baik adalah manusia yang berguna bagi orang
lain. Oleh karena itu ia selalu siap sedia berada di garda terdepan ketika
terjadi peristiwa-peristiwa penggusuruan.
“Aku
berasal dari keluarga yang terbatas ekonominya. Jadi aku sangat sedih melihat
orang lain digusur dari rumahnya, dari tempat tinggalnya. Melalui foto-fotoku,
aku memberitahukan ke orang lain tentang penderitaaan mereka. Aku ingin bilang
kalo digusur bukanlah solusi,” tegasnya.
Pentingnya Buku Foto
Pada
tahun 2014, Irsan membuat buku fotonya sendiri. Buku foto tersebut diberi nama
“Sinabung Bangun Dari Tidur Panjang”. Buku foto ini terdiri atas 86 halaman,
dicetak secara independen tanpa penerbit.
Menurutnya
buku foto penting bagi seorang fotografer karena buku foto itu abadi.
Buku
foto hasil cetakan independen Irsan Mulyadi
“Nanti
ketika anakku berumur 17 tahun, buku foto ini akan aku hadiahkan ke dia,” kata
Irsan berencana.
“Meski
sekarang era digital tapi percayalah kalau umur buku akan lebih tua dari umur
kita. Buku foto ini aku cetak pakai duit sendiri, yaaah cari donatur juga sih,”
lanjutnya.
Setiap Orang Adalah Sumber
Informasi
Saat
ini dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang fotografer jurnalistik, Irsan
cukup terbantu dengan perkembangan teknologi internet seperti sosial media
hingga aplikasi chatting smartphone. Dengan kualitas kamera di ponsel
sekarang, setiap orang bisa mengabarkan berita foto apa pun dari ponselnya.
“Aku
dan teman-teman seprofesi hari ini terbantu grup whatsapp, grup BBM, sosial
media yang sering warga mengabarkan sebuah peristiwa. Jadi gitu dengar ada
sesuatu aku langsung ke lapangan. Jadi buat kami jurnalis, semua orang adalah
teman, semua orang bisa jadi sumber berita yang menginformasikan sebuah
peristiwa, apa pun profesinya,” paparnya.
Oleh
karena itu, Irsan menegaskan, seorang fotografer jurnalistik harus menjaga
sikap dan etikanya. Jangan pernah melakukan kebohongan terhadap sebuah karya
foto. Dalam fotografii jurnalistik, Irsan menjelaskan, haram hukumnya
menghilangkan atau menambahkan suatu elemen di dalam foto. Batasannya hanya di
pengaturan kontras, saturasi, dan cropping. Jika ini dilakukan si
fotografer maka ia sudah membunuh karirnya sendiri.
“Contohnya
fotografer Reuters Adnan Hajj yang melakukan kebohongan dengan mengkloning asap
kebakaran dalam fotonya tentang konflik Lebanon dengan software edit foto
digital. Reuters pun langsung memecat dia,” jelas Irsan.
“Satu
lagi, jangan pernah mengklaim foto orang lain adalah foto kita,” tegasnya.
Saran dan Cita-Cita
Meski
telah “mapan” menjadi fotografer jurnalistik, Irsan masih ingin belajar dan
menjadi seorang dosen. Selain itu ia juga bercita-cita ingin menjadikan Medan
menjadi kota wisata dan seni.
“Hari
ini kita masih berkelompok dalam membangun kesenian, contohnya teman-teman
fotografer, blogger, belum pernah ketemu. Aku pengen kita semuanya
ketemu, duduk, dan komitmen mengembangkan kota Medan. Kalo mengkritisi gak
apa-apa. Nah ini kita lanjutkan secara kontinyu, terus-terusan, masing-masing
dengan konsentrasinya, blogger dengan tulisan-tulisannya, fotografer
dengan foto-fotonya, dan sebagainya. Ini cita-cita bersama,” tambahnya.
Foto
Terbaik “Antara Foto” Tahun 2014 karya Irsan Mulyadi
Bagi
mereka yang ingin menjadi seorang fotografer jurnalistik, Irsan menyarankan
agar jangan ragu untuk mengangkat kamera dan memotret, jangan takut untk
mengabarkan.
“Misalnya
jalanan macet kayak di Jalan Pemuda, share aja, itu kan bermanfaat bagi
orang lain, bisa di-share kayak di facebook, twitter, path, nah ini
kan berguna bagi yang mau ke arah ke sana. Yang kedua jangan mudah dan cepat
bangga berpuas diri dengan pujian ketika foto kita bagus. Fotografi jurnalistik
yang bagus adalah ketika pesannya sampai ke orang lain, nah ketika foto kita
sampai ke orang lain dan mendapatkan like misalnya di facebook, jangan
terlalu cepat puas, karena fungsinya untuk menyampaikan suatu peristiwa pada
khalayak ramai melalui pesan visual. Hakikat manusia pada dasarnya kan berguna
bagi orang lain,” tutupnya. ( https://mhm.asia/fotografer-jurnalistik-irsan-mulyadi/ , 27/05/2020 14 :15)
Hasil karya
semua deskripsi ada diatas (https://mhm.asia/fotografer-jurnalistik-irsan-mulyadi/ ,14:20)
3. Arbain Rambey
Lahir di Semarang, 2
Juli 1961, Arbain Rambey mulai memotret pada tahun 1977 bersama teman-temannya
di SMA Loyola 1, Semarang. Mengenyam pendidikan yang tidak berhubungan dengan
dunia jurnalistik. Arbain lulus dan menjadi sarajana Teknik Sipil dari Institut
Teknologi Bandung tahun 1988.
Setelah lulus, Arbain
bekerja sebagai reporter dan fotografer. Keahliannya dalam bidang fotografi
juga lah yang mengantarkan ia menjadi redaktur foto Kompas menggantikan Kartono
Riyadi pada tahun 1996.
Arbain yang merupakan
anak tunggal lahir dan tumbuh di Semarang dan tinggal bersama bibinya karena
kedua orang tuanya harus bekerja. Ketertarikan Arbain dalam dunia fotografi
rupanya sudah terlihat sejak masa kanak-kanak. Sejak umur 5 tahun, Arbain mulai
tertarik dengan album foto, membolak-balik album foto menjadi kegemaran Arbain
kecil pada saat itu. Pada usia 13 tahun Arbain sudah menguasai teknik cuci dan
cetak foto hitam putih. Kamera pertamanya bermerek Ricoh dengan tipe 500 GX ia
dapatkan pada tahun 1977.
Sebagai wartawan
fotografer handal, Arbain tentunya memiliki segudang prestasi, baik di tingkat
nasional maupun internasional. Beberapa prestasi yang telah diperoleh Arbain,
antara lain Juara Tunggal Festival Seni Internasional Art Summit 1999,
memenangkan medali perunggu 2 tahun berturut-turut pada Lomba Salon Foto tahun
2006 dan 2007, serta Juara 1 lomba foto MURI tahun 2008.
Arbain juga
pernah beberapa kali mengadakan pameran foto, seperti Ekspresi (Medan, 2002),
Mandailing (Medan, 2002), Senyap (Bentara Budaya, Jakarta, 2004), Colour of
Indonesia (Galeri Cahaya, Jakarta, 2004), Crossing Bridges (Singapura, 2004),
Persatoen (Melbourne, 2005), Nusantara (bersama Makarios Soekojo) (Hotel Aston,
Jakarta, 2006).
Kegiatan Arbain
sekarang lebih banyak berupa mengajar. Ia mengajar di beberapa universitas
swasta di Jakarta seperti Universitas Pelita Harapan, Universitas Media
Nusantara, dan Darwis School of Photography.
Hobi
bisa juga bisa jadi profesi. Bekerja dari hobi memang menyenangkan karena Anda
bekerja sekaligus melakukan hal-hal yang disukai. Salah satu contohnya adalah
Arbain Rambey dimana profesinya sebagai seorang fotografer bermula dari
kesukaannya terhadap dunia fotografi.
Seperti
dituturkan kepada kami, Arbain sendiri tidak tahu bagaimana awalnya ia bisa
menyukai dunia fotografi. Kedua orang tuanya pun tak pernah menuntutnya untuk
terjun di dunia fotografi. Yang ia tahu, sejak duduk di bangku SMP di kota
Semarang, ia suka merapikan foto. “Saat itu ada ekstrakurikuler cuci cetak
untuk kelas tiga, tapi saya baru kelas satu. Tapi karena saya berminat, saya
boleh ikut, katanya pengecualian,” kenangnya.
Ketika
duduk di bangku SMA, Arbain Rambey mengikuti berbagai kegiatan pecinta alam. Ia
gemar mendaki gunung bersama teman-temannya. Saat itu, ia kurang puas melihat
foto hasil jepretan teman-temannya. Akhirnya ia yang kemudian banyak memotret
sambil mendaki gunung. Setelah lulus SMA, Arbain melanjutkan kuliah di Institut
Teknologi Bandung (ITB). Kala itu ia punya hobi lain, yaitu jalan-jalan. Dari
situlah ia mulai lebih banyak memotret meskipun hanya memakai kamera orang.
“Kameraku jelek waktu itu,” tuturnya.
Tahun
1988, setelah lulus kuliah, Arbain mulai bekerja di Papua. Sebulan setelah
bekerja, ia membeli kamera pertamanya, Nikon F-301 dengan lensa 3515, seharga
Rp 750.000. Masih diingatnya toko tempat ia membeli kamera itu, yakni di Niaga
Foto Bandung. Selama di Papua, teman-temannya sering jalan-jalan. Semua
kegiatan jalan-jalan ia abadikan dengan kamera itu. Hingga kemudian hasil
fotonya mrndapat komentar positif oleh seorang wartawan Tempo saat Arbain
berkesempatan pameran di Eropa dan Amerika. “Kamu bukan insinyur, tapi
fotografer,” komentar wartawan tersebut.
Itu
adalah kali pertama ada orang yang mengatakan fotonya bagus. Profesinya sebagai
insinyur pun menurutnya tidak cukup baik. Hal itu mendorongnya untuk melamar
menjadi fotografer di harian Kompas pada tahun 1990. Diterima di Kompas, Arbain
dibimbing oleh para senior yang banyak membawa kemajuan dalam karirnya.
Sejak bekerja di Kompas,
kemampuan fotografinya meningkat pesat. Apalagi peralatan fotografi sudah
disubsidi oleh kantor. Jika ada kamera keluaran terbaru, Arbain pun diizinkan
untuk menggunakannya paling dulu. Baginya, sangat menyenangkan mengerjakan
sesuatu yang disenangi. “Kerja jangan cuma mencari kekayaan. Saya bisa hidup
dari apa yang bisa saya senangi,” ujarnya. (http://goenjoyandhappy.blogspot.com/2015/03/biografi-darwis-triadifotografer-master.html, 27/05/2020 , 15 :00)
Hasil karya
( https://www.google.com/search?safe=strict&sxsrf=ALeKk029ndPc6OKMqoP2OWDY0B_nKCPwcw:1590622742055&source=univ&tbm=isch&q=hasil+gambar+arbain+rambey&client=firefox-b-d&sa=X&ved=2ahUKEwjR2Iu8m9XpAhVq4XMBHYyyBCsQ7Al6BAgKEBk&biw=1366&bih=654 28/05/2020 06:24 )
4. Gunawan Wicaksono
Sekolah fotografi yang kelas pertamanya dimulai pada
November 2015 ini menyediakan Kelas Jurnalistik. Dengan begitu, siapa saja,
termasuk mereka yang punya minat pada jurnalisme warga, dapat meningkatkan
kemampuan fotografi jurnalistik dengan mengikuti pelatihan ini. Kursus singkat
yang membahas fotografi non-jurnalistik pun dibuka juga.
Saat Guntje, sapaan akrab
Gunawan, mengajar di beberapa tempat, ada satu hal yang sering dia kritik.
Banyak mahasiswa menganggap momen adalah yang terpenting. Buat mereka, hasil
foto agak tidak fokus tidak apa-apa.
“Padahal, mengutip omongan
almarhum Kartono Ryadi, pewarta foto Kompas, fotografi jurnalistik juga punya
hak tampil indah,” ujar Guntje.
Karena itu, menurut salah satu
mentor TSP ini, prioritas pewarta foto, baik profesional atau warga, memahami
teknik dasar fotografi adalah hal penting. Namun, apa yang coba diajarkan TSP
tidak semata-mata teknik saja, tetapi juga fotografi jurnalistik dari kaca mata
dan pengalaman para pewarta fotonya.
Berbagai situasi yang mungkin
jarang atau tidak pernah ditemui para pegiat foto akan ditularkan, seperti
menyiasati liputan investigasi, mengakali pemotretan profil foto tokoh yang
sulit. Bahkan, bagaimana membuat jaringan pewarta foto di daerah-daerah.
“Kalau teknik, mungkin Googling saja juga sudah dapat,” ucap Guntje yang
merupakan putra fotografer legendaris Zaenal Effendy ini. Dia mengatakan, pada
dasarnya, teknik fotografi dari tahun 1930-an sampai 2000-an tidak jauh
berbeda.
Guntje mengatakan, ke depannya,
peserta pelatihan diberikan apresiasi dalam bentuk pameran foto. Tidak hanya
itu, akan dipilih siapa saja yang terbaik tiap angkatan. Nantinya, mereka punya
kesempatan mengisi rubrik-rubrik di Tempo,
sesuai kemampuannya.
Kalau mereka bagus, tidak
tertutup kemungkinan para peserta akan ditawarkan posisi kontributor foto di Tempoatau diangkat sebagai karyawan. “Kalau bagus,
kenapa tidak,” ujar Guntje.
Dia kembali menekankan,
fotografi jurnalistik bukan hanya soal teknis maupun peralatan kamera serba
canggih, tetapi lebih kepada rasa. Menurutnya, salah satu cara yang dapat
dilakukan pewarta foto untuk meningkatkan kemampuannya bukan sekadar mengikuti
pelatihan, tetapi juga memperkaya referensi. Dia mendorong agar sering melihat
karya orang lain atau pewarta foto yang hebat, datang ke pameran, maupun
membaca majalah dalam dan luar negeri.
“Fotografi terkait juga dengan photographic memory. Secara tidak sadar, terbentuk image bank di dalam kepala,” ucap Guntje.
Ketika menghadapi suatu peristiwa, akan ada bayangan angle atau pencahayaan seperti apa yang dapat
diterapkan. Guntje mengungkapkan, di awal kariernya banyak mengamati karya
pewarta foto legendaris Indonesia, seperti Oscar, Bea, dan tentu saja mendiang
ayahnya.
link : https://daily.oktagon.co.id/para-pewarta-foto-senior-bicara-tentang-foto-jurnalistik-di-era-new-media/ (28/05/2020 06.57)
Hasil Karya
https://daily.oktagon.co.id/para-pewarta-foto-senior-bicara-tentang-foto-jurnalistik-di-era-new-media/ , https://www.facebook.com/Gunawan-Wicaksono-photojournalist-256827224450604/photos/?ref=page_internal , 07:11
5. Peski Cahyo
Pria kelahiran Jakarta, 19 April 1976 ini mengaku
keberuntungan tetap jadi hal penting bagi fotografer olahraga. Namun, pada 2003, ia
memantapkan hati terjun di fotografi olahraga dengan bergabung dengan Tabloid Bola memang
sedikit berbeda dari foto jurnalistik pada umumnya. Ia dibatasi ruang dan
waktu, entah itu 2x45 menit di lapangan sepak bola atau 4x10 menit di lapangan
basket yang berukuran lebih kecil. Dalam batasan-batasan itu, para fotografer
harus menangkap gerak dan momen yang terkadang muncul hanya sepersekian detik.
Sedikit saja lengah bisa berarti ‘petaka’
Bagi Peksi, pekerjaan fotografer
olahraga bahkan hampir sama dengan atlet itu sendiri. Selain butuh kesabaran,
juga perlu daya tahan yang kuat karena harus memiliki konsentrasi dan fokus
yang baik
Itu pun terjadi secara tidak sengaja. Saat itu Peksi
yang merupakan fotografer Sinar Harapan, merasa berada di titik yang memaksanya
untuk mengembangkan diri.
Peksi sebenarnya sudah sampai pada
tahap wawancara di kantor berita EPA (European Pressphoto Agency). Namun di
tengah jalan, dia mendapatkan panggilan dari Tabloid Bola. Ia pun mengubah
pilihan.
"Mungkin seperti dalam tanda kutip sudah
jalannya. Waktu itu, somehow, enggak tahu kenapa, ingin ke tukang
koran baca-baca saja. Terus gue ambil (tabloid) Bola kerena sudah lama enggak
langganan waktu masih di Sinar Harapan. Gue buka ternyata ada lowongan. Eh,
lalu dipanggil. Akhirnya gue milih di situ," ujarnya. Di tabloid olahraga
itu Peksi bekerja 12 tahun sebelum akhirnya pindah ke bola.com pada
2015 Sebagai fotografer olahraga, Peksi menilai olahraga yang sangat sukar
diabadikan adalah lari. Ini karena banyak hal harus dipertimbangkan dalam waktu
pertandingan yang sangat singkat, mulai dari perencanaan pengambilan gambar,
hingga penentuan posisi mengambil foto.
peksi mengaku keberuntungan tetap
jadi hal penting bagi fotografer olahraga. Tapi nilainya tak lebih tinggi dari
teknik dan juga persiapan.
"Luck, persiapan, dan teknik. Nah ketiga
itu harus dikombinasikan. Tapi kembali lagi, kadang-kadang Anda punya skill luar
biasa, punya persiapan, tapi lagi enggak ketemu luck. Gitu
saja," ucapnya.
"Tapi yang bisa saya pastikan, kalau Anda enggak
punya skill dan enggak punya persiapan, Anda enggak akan
dapat luck. Kayak matematika hukum persamaan, ini plus ini sama
dengan itu."Ketaatan menerapkan tiga prinsip itu membuat Peksi merebut
juara 1 kategori olahraga di Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2015. Foto yang
membuatnya mendapatkan penghargaan itu adalah momen Daud Jordan yang sedang
menerima bogem mentah.
Perjuangan untuk mendapatkan foto itu
bukan hal mudah. Pada saat pertandingan, Tabloid Bola tidak mendapatkan jatah
mengambil foto di area pinggir ring. Tapi setelah melakukan lobi dengan pihak
penyelenggara, Peksi pun bisa mendapatkan tempat ideal. Di sisi lain,
sebagai fotografer olahraga Peksi merasa beruntung bisa menjadi saksi kejayaan
Spanyol mulai dari Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan terakhir Piala Eropa
2012. Bagi seorang Peksi, esensi dari foto olahraga bukan soal menang atau
kalah. Tapi cerita di baliknya. Ia juga berpesan agar fotografer olahraga
harus bisa melakukan pendekatan dengan atlet karena bisa memberikan pengaruh
terhadap foto. “Touch” seorang fotografer yang memiliki kedekatan dengan atlet,
menurutnya, akan berbeda dari mereka yang asal datang untuk liputan.
Peksi mengibaratkan seperti
seseorang yang sedang mendengarkan musik, tapi tidak mendapatkan jiwa dari
musik tersebut. Fotografer olahraga yang ideal adalah setelah motret di
pertandingan, besoknya mulai kenalan dengan sang atlet. Datang pas latihan,
lihatin, nongkrong. Enggak motret, simpan saja kameranya. Dari semua itu kan
terus lo bisa bayangin, jenis manusia kayak apa yang harus gue gambarkan dengan
lensa kamera.
link : ( https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170504152522-25-212298/peksi-cahyo-dan-tiga-rahasia-fotografi-olahraga/2 28/05/2020 07:31 )
Hasil Karya
link :; https://www.facebook.com/Imaji234/
SEMOGA BERMANFAAT
Minal Aidzin Walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin chinguu
Wassalammualikum wr.wb
































