Rabu, 27 Mei 2020

5 Biografi Spesialisasi Jurnalistik dan Olahraga Nasional


FOTOGRAFI

Bismillahirahmanirahim
Assalammualaikum wr.wb

Hai Chingu online,  Bagaimana kabarnya? sehat-kan ? iya dong harus sehat ya. Tetap jaga kesehtan dengan dirumah saja ya. selalu ikuti protokol kesehatan okeee.
Kali ini aku mau berbagi sedikit pengetahuan tentang  5 Biografi  Spesialisasi Jurnalistik dan Olahraga Nasional seperti yang sebelumnya  sudah bnyak aku mengupdate tengan 5 biografi dibidang keshatan. jadi kali ini berbeda lagi , jadi semoga bermanfaat yaa 


1. Oscar Motuloh


Oscar Motuloh adalah seorang fotojurnalis terkemuka Indonesia yang lahir di Surabaya pada tanggal 17 Agustus 1959. Ia memulai karirnya dengan menjadi wartawan tulis Antara pada tahun 1988 setelah mengikuti Kursus Dasar Pewarta (Susdape). Pada tahun 1990, dia ditunjuk oleh Parni Hadi, pemimpin redaksi Antara untuk menangani biro foto. Pada awalnya, Oscar belajar fotografi secara otodidak, namun pada taun 1991 dan 1993, ia belajar mengenai foto jurnalisme di Hanoi dan Tokyo.

Oscar Motuloh pernah menjabat sebagai direktur Biro Foto Antara, dan sekarang merupakan penanggung jawab dan kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara yang didirikannya pada tahun 1992. Galeri Foto Jurnalistik Antara adalah galeri foto jurnalistik pertama dan satu-satunya di Asia Tenggara yang terletak di daerah Pasar Baru, Jakarta Pusat. Di luar jabatannya di Biro Foto dan Galeri Antara, ia juga mengajar fotojurnalistik di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta dan sering diundang sebagai pembicara dalam acara diskusi foto, sebagai juri dalam lomba-lomba foto, dan sebagai kurator pameran. Oscar Motuloh juga terlibat dalam pembentukan Pewarta Foto Indonesia, sebuah organisasi  yang menaungi para fotojurnalis. Pada tahun 2011, Oscar Motuloh mendirikan Liga Merah Putih bersama Julian Sihombing, Jay Subiakto, Enrico Sukarno, Yori Antar, John Suryadmadja, dan Astafarinal St. Rumah Gadang.

Beberapa pameran tunggal yang pernah diadakannya adalah “Voice of Angkor” yang diadakan pada tahun 1997 dalam kerjasama dengan Pusat Kebudayaan Prancis di Jakarta,”Carnaval” pada tahun 1999, “Chansons Périphériques” pada tahun 2002 mengenai kaum minoritas di Prancis, “The Art of Dying” pada tahun 2003 di Bentara Budaya Jakarta, dan yang “Soulscape Road” atau “Lintasan Saujana Jiwa” pada tahun 2009 di Galeri Salihara. Pameran foto “Soulscape Road” ini juga pernah dipamerkan di Tropenmuseum di Amsterdam kerjasama dengan Pemerintah Belanda.

Ia juga mengedit buku foto seperti “Samudra Air Mata” yang diterbitkan di tahun 2005 yang menampilkan  hasil karya 17 fotografer mengenai tsunami di Aceh. Selain menjadi editor, ia juga mengkuratori beberapa buku foto dan pameran seperti “The Struggle Continues, 100 Days On” yang diluncurkan di Galeri Foto Jurnalistik Antara, “Viewpoints” yang menampilkan karya Sigit Pramono dan Lans Brahmantyo, “Soul Oddyssey” pada tahun 2005, dan “Omar’s Visual Journey” pada tahun 2010. Pada tahun 2005 juga, bekerja sama dengan 7 fotografer lainnya, menerbitkan buku “The Loved Ones.” Pada tahun 2009 ia menerbitkan buku foto “Soulscape Road” mengenai bencana-bencana yang terjadi di Indonesia. Pada tahun 2011, bersama dengan 9 fotografer lainnya yang sebagian besar tergabung dalam Liga Merah Putih, mengadakan pameran foto dan peluncuran buku foto yang berjudul “Indonesia A Surprise” yang diadakan di Galeri Salihara. Buku Indonesia A Surprise ini menampilkan beberapa puisi dan essay dari Goenawan Mohamad.( http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/oscar-motuloh , 27/05/2020 14.00)

Hasil Karya Oscar Motuloh







(https://www.google.com/search?q=foto+karya+Oscar+Motuloh&safe=strict&client=firefox-b-d&sxsrf=ALeKk00EL841Y-ZuNKu04Q4TaN1TgEIRBg:1590564486862&tbm=isch&source=iu&ictx=1&fir=x365hdCL75BA4M%253A%252CwQUTh85kuwym6M%252C_&vet=1&usg=AI4_-kS0bulGZrZJDiWz5KsFQYwgjP9iQA&sa=X&ved=2ahUKEwjt_ey5wtPpAhVm63MBHf6xBFQQ9QEwAHoECAoQEw#imgrc=x365hdCL75BA4M: , 14:05)


2. Irsan Mulyadi

Irsan Mulyadi adalah seorang fotografer jurnalistik muda kebanggaan kota Medan. Karya-karya fotonya sudah banyak diganjar penghargaan bertaraf lokal hingga nasional. Di tahun 2013, laki-laki kelahiran 1984 ini dianugerahi “Photo of The Year” Anugerah Pewarta Foto Indonesia (PFI). Tahun berikutnya, 2014, ia menyabet “Foto Terbaik” Antara Foto yang menyisihkan lebih dari 50.000 foto lainnya.
Kecintaan Irsan akan dunia jurnalistik dimulai sejak ia duduk di bangku SMP. Saat tahun 1998, ia menjadi saksi dari kerusuhan pasca jatuhnya rezim Soeharto.
“Aku waktu itu masih kelas dua SMP dan aku melihat kerusuhan tahun 1998 itu tepat di mataku. Nah di situlah aku melihat seorang wartawan. Aku langsung berfikir kalau wartawan adalah profesi yang sangat bermanfaat bagi orang lain dan penuh tantangan. Aku jadi tertarik,” paparnya
Irsan sendiri berasal dari keluarga yang penuh keterbatasan dalam hal ekonomi. Ibunya adalah seorang buruh cuci, sedangkan ayahnya seorang tukang sepatu.
“Dulu kami tinggal di rumah sewa, di gubuk. Kalau hari hujan, kami harus tidur miring ke kiri atau kanan agar tidak kena bocoran tetesan air hujan,” kenangnya.
Untuk membantu ekonomi keluarga, Irsan kecil pun pernah menjajakan salabulek (kue khas Minang) di sekitar lingkungan rumahnya.
“Aku dulu sering nunggak bayar uang sekolah. Kondisi ekonomi keluarga inilah yang bikin aku berjanji ke diri sendiri agar tidak menyusahkan keluarga dan berusaha memperbaiki ekonomi keluarga,” tuturnya.
Tamat dari SMA Negeri 6 Medan, anak keempat dari lima bersaudara ini berhasil menjadi mahasiswa di Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU), dan lulus pada tahun 2008.
“Dari semua anak mamakku, cuma aku yang tamat kuliah. Sejak kuliah semester empat aku udah mandiri, kerja sana-sini, ikut penelitian, dan udah bisa bantu orang tua dikit-dikit,” sambungnya.
Berbekal Kamera Pocket
Tamat dari FISIP USU, suami dari Tya Yoniva Kusmareza ini pun berusaha mencari pekerjaan.
“Berangkat dari kondisi kecil yang serba terbatas, pekerjaanku harus membantu orang lain,” lanjutnya.
Menjadi jurnalis adalah pilihan Irsan. Ia pun sempat bekerja di Harian Sumut Pos, sebelum pindah ke Kantor Berita Antara.
Perjalanannya menjadi fotografer jurnalistik terbilang cukup historis. Pada 2 Maret 2009, ia mengabadikan aksi demonstrasi kasus Provinsi Tapanuli yang menewaskan ketua DPRD almarhum H. Abdul Azis Angkat. Fotonya merekam almarhum H. Abdul Azis Angkat ketika hendak dievakuasi dari “serbuan” para demonstran.
“Waktu itu statusku di Antara masih wartawan tulis, tapi kemana-mana bawa kamera pocket. Jadi foto itu aku rekam pakai kamera pocket. Kantor melihat fotoku itu. Foto itu dipakai hampir di seluruh media di Indonesia. Dari situ aku jadi tertarik ke fotografi jurnalistik, aku melihat kalau fotografi jurnalistik berada di barisan terdepan dalam mengabarkan sebuah peristiwa,” paparnya.
Enam bulan pasca peristiwa tersebut, Irsan pun akhirnya memutuskan untuk fokus menjadi fotografer jurnalistik. Ilmu jurnalistik sendiri dipelajari Irsan dari pelatihan yang diadakan oleh kantor tempat ia bekerja. Sedangkan ilmu fotografi diperolehnya melalui otodidak dan rajin bertanya kepada semua orang.
Irsan melanjutkan, ketika sudah menjadi fotografer jurnalistik, teman-teman seprofesinya rata-rata menggunakan kamera DSLR (digital single lens reflection) sebagai “senjata utama”, sedangkan ia masih menenteng kamera pocket.
“Terkadang jadi minder sendiri, tapi banyak yang dukung terutama para senior. Mereka bilang gini, kami seharusnya yang malu, kami memakai DSLR tapi fotomu yang diambil pakai kamera pocket tidak jauh beda dengan foto-foto kami. Sebenarnya foto yang bagus dalam fotografi jurnalistik bukan tergantung kamera yang digunakan tapi dari insting fotografernya, kamera hanyalah alat,” kenangnya.
“Soal ilmu fotografi aku tanya kemana-mana, seperti apa memotret di siang hari, bagaimana memotret saat gelap, saat cahaya yang tidak terlalu cukup; aku banyak belajar dari kawan. Aku juga nanya adik junior di kampus yang paham fotografi, gak malu, ngapain malu, termasuk Risky Cahyadi walau dia junior di kampus, tapi harus diakui mereka yang lebih dulu kenal dunia fotografi,” sambungnya.
“Aku percaya kalau setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah,” tuturnya.
Irsan menggarisbawahi, kalau kamera hanyalah alat untuk mempermudah fotografer. Oleh karenanya, ia tidak terlalu memaksakan dirinya untuk meng-upgrade spesifikasi kameranya.
“Kalo punya kamera dengan lensa kita 18-55 mm sebenarnya udah cukup. Tapi memang gak ada salahnya juga di-upgrade, contohnya lensa tele yang membantu ketika ingin memotret dalam jarak tertentu yang tidak bisa ditempuh, seperti pertandingan sepakbola atau kerusuhan,” ujarnya.
Suka Tantangan
Pribadi yang mengidolakan Oscar Motuloh ini adalah seorang yang menyukai tantangan. Hal ini dibuktikannya dengan beberapa foto-fotonya yang inspiratif yang didapat melalui perjuangan bersimbah keringat.
“Aku selalu ingin jadi yang pertama dan terdepan dalam mengabarkan sebuah peristiwa secara visual,” katanya.
Irsan kemudian menceritakan ia pernah berada tidak jauh dari awan panas erupsi Gunung Sinabung yang menghasilkan debu pasir setinggi betis orang dewasa di Desa Suka Meriah, kaki Gunung Sinabung.
Ayah dari Dimas Arya Mulyadi ini juga pernah “mengikuti” pihak terkait dalam mencari gerombolon perampok Bank CIMB Niaga. Alhasil, baku tembak antara perampok dengan pihak polisi dan TNI terjadi langsung di depan matanya.
Fotonya yang menjadi juara dalam “Photo of The Year” Anugerah Pewarta Foto Indonesia (PFI) tahun 2013 juga diraih dengan penuh perjuangan. Penggemar sate padang ini bercerita, kalau foto tersebut berlokasi di Langkat. Ia sebelumnya mendapat informasi dari tim penyelamat orang utan, kalau mereka akan melakukan proses evakuasi orang utan.
“Waktu itu bulan puasa. Aku masuk hutan jam 11 pagi, ketemunya baru jam 6 sore, dan kami hampir saja kecewa lalu bergegas pulang, karena orang utan yang gak kunjung nampak. Waktu itu aku berdoa kepada Allah, ya Allah hambamu puasa dan hambamu ini bekerja, masa’ jauh-jauh dari Medan mau ngefoto evakuasi orang utan tapi orang utannya gak nampak. Alhamdulillah, 10 menit kemudian orang utannya ada di atas kepala kami, dibius, terjatuh, dan aku potret menjelang adzan maghrib. Di pelipisnya ada peluru yang diduga berasal dari tembakan warga karena dianggap hama oleh penduduk yang tinggal di sekitar kebun kelapa sawit,” jelasnya.
Photo of The Year” Anugerah Pewarta Foto Indonesia (PFI) tahun 2013 karya Irsan Mulyadi
Irsan berprinsip, manusia yang paling baik adalah manusia yang berguna bagi orang lain. Oleh karena itu ia selalu siap sedia berada di garda terdepan ketika terjadi peristiwa-peristiwa penggusuruan.
“Aku berasal dari keluarga yang terbatas ekonominya. Jadi aku sangat sedih melihat orang lain digusur dari rumahnya, dari tempat tinggalnya. Melalui foto-fotoku, aku memberitahukan ke orang lain tentang penderitaaan mereka. Aku ingin bilang kalo digusur bukanlah solusi,” tegasnya.
Pentingnya Buku Foto
Pada tahun 2014, Irsan membuat buku fotonya sendiri. Buku foto tersebut diberi nama “Sinabung Bangun Dari Tidur Panjang”. Buku foto ini terdiri atas 86 halaman, dicetak secara independen tanpa penerbit.
Menurutnya buku foto penting bagi seorang fotografer karena buku foto itu abadi.
Buku foto hasil cetakan independen Irsan Mulyadi
“Nanti ketika anakku berumur 17 tahun, buku foto ini akan aku hadiahkan ke dia,” kata Irsan berencana.
“Meski sekarang era digital tapi percayalah kalau umur buku akan lebih tua dari umur kita. Buku foto ini aku cetak pakai duit sendiri, yaaah cari donatur juga sih,” lanjutnya.
Setiap Orang Adalah Sumber Informasi
Saat ini dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang fotografer jurnalistik, Irsan cukup terbantu dengan perkembangan teknologi internet seperti sosial media hingga aplikasi chatting smartphone. Dengan kualitas kamera di ponsel sekarang, setiap orang bisa mengabarkan berita foto apa pun dari ponselnya.
“Aku dan teman-teman seprofesi hari ini terbantu grup whatsapp, grup BBM, sosial media yang sering warga mengabarkan sebuah peristiwa. Jadi gitu dengar ada sesuatu aku langsung ke lapangan. Jadi buat kami jurnalis, semua orang adalah teman, semua orang bisa jadi sumber berita yang menginformasikan sebuah peristiwa, apa pun profesinya,” paparnya.
Oleh karena itu, Irsan menegaskan, seorang fotografer jurnalistik harus menjaga sikap dan etikanya. Jangan pernah melakukan kebohongan terhadap sebuah karya foto. Dalam fotografii jurnalistik, Irsan menjelaskan, haram hukumnya menghilangkan atau menambahkan suatu elemen di dalam foto. Batasannya hanya di pengaturan kontras, saturasi, dan cropping. Jika ini dilakukan si fotografer maka ia sudah membunuh karirnya sendiri.
“Contohnya fotografer Reuters Adnan Hajj yang melakukan kebohongan dengan mengkloning asap kebakaran dalam fotonya tentang konflik Lebanon dengan software edit foto digital. Reuters pun langsung memecat dia,” jelas Irsan.
“Satu lagi, jangan pernah mengklaim foto orang lain adalah foto kita,” tegasnya.
Saran dan Cita-Cita
Meski telah “mapan” menjadi fotografer jurnalistik, Irsan masih ingin belajar dan menjadi seorang dosen. Selain itu ia juga bercita-cita ingin menjadikan Medan menjadi kota wisata dan seni.
“Hari ini kita masih berkelompok dalam membangun kesenian, contohnya teman-teman fotografer, blogger, belum pernah ketemu. Aku pengen kita semuanya ketemu, duduk, dan komitmen mengembangkan kota Medan. Kalo mengkritisi gak apa-apa. Nah ini kita lanjutkan secara kontinyu, terus-terusan, masing-masing dengan konsentrasinya, blogger dengan tulisan-tulisannya, fotografer dengan foto-fotonya, dan sebagainya. Ini cita-cita bersama,” tambahnya.
Foto Terbaik “Antara Foto” Tahun 2014 karya Irsan Mulyadi
Bagi mereka yang ingin menjadi seorang fotografer jurnalistik, Irsan menyarankan agar jangan ragu untuk mengangkat kamera dan memotret, jangan takut untk mengabarkan.
“Misalnya jalanan macet kayak di Jalan Pemuda, share aja, itu kan bermanfaat bagi orang lain, bisa di-share kayak di facebook, twitter, path, nah ini kan berguna bagi yang mau ke arah ke sana. Yang kedua jangan mudah dan cepat bangga berpuas diri dengan pujian ketika foto kita bagus. Fotografi jurnalistik yang bagus adalah ketika pesannya sampai ke orang lain, nah ketika foto kita sampai ke orang lain dan mendapatkan like misalnya di facebook, jangan terlalu cepat puas, karena fungsinya untuk menyampaikan suatu peristiwa pada khalayak ramai melalui pesan visual. Hakikat manusia pada dasarnya kan berguna bagi orang lain,” tutupnya. ( https://mhm.asia/fotografer-jurnalistik-irsan-mulyadi/ ,  27/05/2020 14 :15) 

Hasil karya 








   
semua deskripsi ada diatas (https://mhm.asia/fotografer-jurnalistik-irsan-mulyadi/  ,14:20) 



3. Arbain Rambey



Lahir di Semarang, 2 Juli 1961, Arbain Rambey mulai memotret pada tahun 1977 bersama teman-temannya di SMA Loyola 1, Semarang. Mengenyam pendidikan yang tidak berhubungan dengan dunia jurnalistik. Arbain lulus dan menjadi sarajana Teknik Sipil dari Institut Teknologi Bandung tahun 1988.
Setelah lulus, Arbain bekerja sebagai reporter dan fotografer. Keahliannya dalam bidang fotografi juga lah yang mengantarkan ia menjadi redaktur foto Kompas menggantikan Kartono Riyadi pada tahun 1996.

Arbain yang merupakan anak tunggal lahir dan tumbuh di Semarang dan tinggal bersama bibinya karena kedua orang tuanya harus bekerja. Ketertarikan Arbain dalam dunia fotografi rupanya sudah terlihat sejak masa kanak-kanak. Sejak umur 5 tahun, Arbain mulai tertarik dengan album foto, membolak-balik album foto menjadi kegemaran Arbain kecil pada saat itu. Pada usia 13 tahun Arbain sudah menguasai teknik cuci dan cetak foto hitam putih. Kamera pertamanya bermerek Ricoh dengan tipe 500 GX ia dapatkan pada tahun 1977.

Sebagai wartawan fotografer handal, Arbain tentunya memiliki segudang prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Beberapa prestasi yang telah diperoleh Arbain, antara lain Juara Tunggal Festival Seni Internasional Art Summit 1999, memenangkan medali perunggu 2 tahun berturut-turut pada Lomba Salon Foto tahun 2006 dan 2007, serta Juara 1 lomba foto MURI tahun 2008.

 Arbain juga pernah beberapa kali mengadakan pameran foto, seperti Ekspresi (Medan, 2002), Mandailing (Medan, 2002), Senyap (Bentara Budaya, Jakarta, 2004), Colour of Indonesia (Galeri Cahaya, Jakarta, 2004), Crossing Bridges (Singapura, 2004), Persatoen (Melbourne, 2005), Nusantara (bersama Makarios Soekojo) (Hotel Aston, Jakarta, 2006).

Kegiatan Arbain sekarang lebih banyak berupa mengajar. Ia mengajar di beberapa universitas swasta di Jakarta seperti Universitas Pelita Harapan, Universitas Media Nusantara, dan Darwis School of Photography. 

Hobi bisa juga bisa jadi profesi. Bekerja dari hobi memang menyenangkan karena Anda bekerja sekaligus melakukan hal-hal yang disukai. Salah satu contohnya adalah Arbain Rambey dimana profesinya sebagai seorang fotografer bermula dari kesukaannya terhadap dunia fotografi.
Seperti dituturkan kepada kami, Arbain sendiri tidak tahu bagaimana awalnya ia bisa menyukai dunia fotografi. Kedua orang tuanya pun tak pernah menuntutnya untuk terjun di dunia fotografi. Yang ia tahu, sejak duduk di bangku SMP di kota Semarang, ia suka merapikan foto. “Saat itu ada ekstrakurikuler cuci cetak untuk kelas tiga, tapi saya baru kelas satu. Tapi karena saya berminat, saya boleh ikut, katanya pengecualian,” kenangnya.

Ketika duduk di bangku SMA, Arbain Rambey mengikuti berbagai kegiatan pecinta alam. Ia gemar mendaki gunung bersama teman-temannya. Saat itu, ia kurang puas melihat foto hasil jepretan teman-temannya. Akhirnya ia yang kemudian banyak memotret sambil mendaki gunung. Setelah lulus SMA, Arbain melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Kala itu ia punya hobi lain, yaitu jalan-jalan. Dari situlah ia mulai lebih banyak memotret meskipun hanya memakai kamera orang. “Kameraku jelek waktu itu,” tuturnya.

Tahun 1988, setelah lulus kuliah, Arbain mulai bekerja di Papua. Sebulan setelah bekerja, ia membeli kamera pertamanya, Nikon F-301 dengan lensa 3515, seharga Rp 750.000. Masih diingatnya toko tempat ia membeli kamera itu, yakni di Niaga Foto Bandung. Selama di Papua, teman-temannya sering jalan-jalan. Semua kegiatan jalan-jalan ia abadikan dengan kamera itu. Hingga kemudian hasil fotonya mrndapat komentar positif oleh seorang wartawan Tempo saat Arbain berkesempatan pameran di Eropa dan Amerika. “Kamu bukan insinyur, tapi fotografer,” komentar wartawan tersebut.

Itu adalah kali pertama ada orang yang mengatakan fotonya bagus. Profesinya sebagai insinyur pun menurutnya tidak cukup baik. Hal itu mendorongnya untuk melamar menjadi fotografer di harian Kompas pada tahun 1990. Diterima di Kompas, Arbain dibimbing oleh para senior yang banyak membawa kemajuan dalam karirnya.

Sejak bekerja di Kompas, kemampuan fotografinya meningkat pesat. Apalagi peralatan fotografi sudah disubsidi oleh kantor. Jika ada kamera keluaran terbaru, Arbain pun diizinkan untuk menggunakannya paling dulu. Baginya, sangat menyenangkan mengerjakan sesuatu yang disenangi. “Kerja jangan cuma mencari kekayaan. Saya bisa hidup dari apa yang bisa saya senangi,” ujarnya.  (http://goenjoyandhappy.blogspot.com/2015/03/biografi-darwis-triadifotografer-master.html, 27/05/2020 , 15 :00)

Hasil karya





( https://www.google.com/search?safe=strict&sxsrf=ALeKk029ndPc6OKMqoP2OWDY0B_nKCPwcw:1590622742055&source=univ&tbm=isch&q=hasil+gambar+arbain+rambey&client=firefox-b-d&sa=X&ved=2ahUKEwjR2Iu8m9XpAhVq4XMBHYyyBCsQ7Al6BAgKEBk&biw=1366&bih=654 28/05/2020 06:24 )


4. Gunawan Wicaksono




Sekolah fotografi yang kelas pertamanya dimulai pada November 2015 ini menyediakan Kelas Jurnalistik. Dengan begitu, siapa saja, termasuk mereka yang punya minat pada jurnalisme warga, dapat meningkatkan kemampuan fotografi jurnalistik dengan mengikuti pelatihan ini. Kursus singkat yang membahas fotografi non-jurnalistik pun dibuka juga.
Saat Guntje, sapaan akrab Gunawan, mengajar di beberapa tempat, ada satu hal yang sering dia kritik. Banyak mahasiswa menganggap momen adalah yang terpenting. Buat mereka, hasil foto agak tidak fokus tidak apa-apa.
“Padahal, mengutip omongan almarhum Kartono Ryadi, pewarta foto Kompas, fotografi jurnalistik juga punya hak tampil indah,” ujar Guntje.
Karena itu, menurut salah satu mentor TSP ini, prioritas pewarta foto, baik profesional atau warga, memahami teknik dasar fotografi adalah hal penting. Namun, apa yang coba diajarkan TSP tidak semata-mata teknik saja, tetapi juga fotografi jurnalistik dari kaca mata dan pengalaman para pewarta fotonya.
Berbagai situasi yang mungkin jarang atau tidak pernah ditemui para pegiat foto akan ditularkan, seperti menyiasati liputan investigasi, mengakali pemotretan profil foto tokoh yang sulit. Bahkan, bagaimana membuat jaringan pewarta foto di daerah-daerah.
“Kalau teknik, mungkin Googling saja juga sudah dapat,” ucap Guntje yang merupakan putra fotografer legendaris Zaenal Effendy ini. Dia mengatakan, pada dasarnya, teknik fotografi dari tahun 1930-an sampai 2000-an tidak jauh berbeda.
Guntje mengatakan, ke depannya, peserta pelatihan diberikan apresiasi dalam bentuk pameran foto. Tidak hanya itu, akan dipilih siapa saja yang terbaik tiap angkatan. Nantinya, mereka punya kesempatan mengisi rubrik-rubrik di Tempo, sesuai kemampuannya.
Kalau mereka bagus, tidak tertutup kemungkinan para peserta akan ditawarkan posisi kontributor foto di Tempoatau diangkat sebagai karyawan. “Kalau bagus, kenapa tidak,” ujar Guntje.
Dia kembali menekankan, fotografi jurnalistik bukan hanya soal teknis maupun peralatan kamera serba canggih, tetapi lebih kepada rasa. Menurutnya, salah satu cara yang dapat dilakukan pewarta foto untuk meningkatkan kemampuannya bukan sekadar mengikuti pelatihan, tetapi juga memperkaya referensi. Dia mendorong agar sering melihat karya orang lain atau pewarta foto yang hebat, datang ke pameran, maupun membaca majalah dalam dan luar negeri.
“Fotografi terkait juga dengan photographic memory. Secara tidak sadar, terbentuk image bank di dalam kepala,” ucap Guntje.
Ketika menghadapi suatu peristiwa, akan ada bayangan angle atau pencahayaan seperti apa yang dapat diterapkan. Guntje mengungkapkan, di awal kariernya banyak mengamati karya pewarta foto legendaris Indonesia, seperti Oscar, Bea, dan tentu saja mendiang ayahnya.
link : https://daily.oktagon.co.id/para-pewarta-foto-senior-bicara-tentang-foto-jurnalistik-di-era-new-media/  (28/05/2020 06.57)

Hasil Karya
 




 





https://daily.oktagon.co.id/para-pewarta-foto-senior-bicara-tentang-foto-jurnalistik-di-era-new-media/  , https://www.facebook.com/Gunawan-Wicaksono-photojournalist-256827224450604/photos/?ref=page_internal , 07:11



5. Peski Cahyo



Pria kelahiran Jakarta, 19 April 1976 ini mengaku keberuntungan tetap jadi hal penting bagi fotografer olahraga.  Namun, pada 2003, ia memantapkan hati terjun di fotografi olahraga dengan bergabung dengan Tabloid Bola memang sedikit berbeda dari foto jurnalistik pada umumnya. Ia dibatasi ruang dan waktu, entah itu 2x45 menit di lapangan sepak bola atau 4x10 menit di lapangan basket yang berukuran lebih kecil. Dalam batasan-batasan itu, para fotografer harus menangkap gerak dan momen yang terkadang muncul hanya sepersekian detik. Sedikit saja lengah bisa berarti ‘petaka’ 
      Bagi Peksi, pekerjaan fotografer olahraga bahkan hampir sama dengan atlet itu sendiri. Selain butuh kesabaran, juga perlu daya tahan yang kuat karena harus memiliki konsentrasi dan fokus yang baik 
Itu pun terjadi secara tidak sengaja. Saat itu Peksi yang merupakan fotografer Sinar Harapan, merasa berada di titik yang memaksanya untuk mengembangkan diri.
     Peksi sebenarnya sudah sampai pada tahap wawancara di kantor berita EPA (European Pressphoto Agency). Namun di tengah jalan, dia mendapatkan panggilan dari Tabloid Bola. Ia pun mengubah pilihan.
"Mungkin seperti dalam tanda kutip sudah jalannya. Waktu itu, somehow, enggak tahu kenapa, ingin ke tukang koran baca-baca saja. Terus gue ambil (tabloid) Bola kerena sudah lama enggak langganan waktu masih di Sinar Harapan. Gue buka ternyata ada lowongan. Eh, lalu dipanggil. Akhirnya gue milih di situ," ujarnya. Di tabloid olahraga itu Peksi bekerja 12 tahun sebelum akhirnya pindah ke bola.com pada 2015 Sebagai fotografer olahraga, Peksi menilai olahraga yang sangat sukar diabadikan adalah lari. Ini karena banyak hal harus dipertimbangkan dalam waktu pertandingan yang sangat singkat, mulai dari perencanaan pengambilan gambar, hingga penentuan posisi mengambil foto.
    peksi  mengaku keberuntungan tetap jadi hal penting bagi fotografer olahraga. Tapi nilainya tak lebih tinggi dari teknik dan juga persiapan.
"Luck, persiapan, dan teknik. Nah ketiga itu harus dikombinasikan. Tapi kembali lagi, kadang-kadang Anda punya skill luar biasa, punya persiapan, tapi lagi enggak ketemu luck. Gitu saja," ucapnya.
"Tapi yang bisa saya pastikan, kalau Anda enggak punya skill dan enggak punya persiapan, Anda enggak akan dapat luck. Kayak matematika hukum persamaan, ini plus ini sama dengan itu."Ketaatan menerapkan tiga prinsip itu membuat Peksi merebut juara 1 kategori olahraga di Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2015. Foto yang membuatnya mendapatkan penghargaan itu adalah momen Daud Jordan yang sedang menerima bogem mentah.
    Perjuangan untuk mendapatkan foto itu bukan hal mudah. Pada saat pertandingan, Tabloid Bola tidak mendapatkan jatah mengambil foto di area pinggir ring. Tapi setelah melakukan lobi dengan pihak penyelenggara, Peksi pun bisa mendapatkan tempat ideal. Di sisi lain, sebagai fotografer olahraga Peksi merasa beruntung bisa menjadi saksi kejayaan Spanyol mulai dari Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, dan terakhir Piala Eropa 2012. Bagi seorang Peksi, esensi dari foto olahraga bukan soal menang atau kalah. Tapi cerita di baliknya. Ia juga berpesan agar fotografer olahraga harus bisa melakukan pendekatan dengan atlet karena bisa memberikan pengaruh terhadap foto. “Touch” seorang fotografer yang memiliki kedekatan dengan atlet, menurutnya, akan berbeda dari mereka yang asal datang untuk liputan.
     Peksi mengibaratkan seperti seseorang yang sedang mendengarkan musik, tapi tidak mendapatkan jiwa dari musik tersebut. Fotografer olahraga yang ideal adalah setelah motret di pertandingan, besoknya mulai kenalan dengan sang atlet. Datang pas latihan, lihatin, nongkrong. Enggak motret, simpan saja kameranya. Dari semua itu kan terus lo bisa bayangin, jenis manusia kayak apa yang harus gue gambarkan dengan lensa kamera. 
link : ( https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170504152522-25-212298/peksi-cahyo-dan-tiga-rahasia-fotografi-olahraga/2 28/05/2020 07:31 )

Hasil Karya 








link :;  https://www.facebook.com/Imaji234/ 




SEMOGA BERMANFAAT 
Minal Aidzin Walfaidzin,  mohon maaf lahir dan batin  chinguu
Wassalammualikum wr.wb







5 Biografi Spesialisasi Jurnalistik dan Olahraga Nasional

FOTOGRAFI Bismillahirahmanirahim Assalammualaikum wr.wb Hai Chingu online,  Bagaimana kabarnya? sehat-kan ? iya dong harus seha...